Jakarta

Hari ini giliran Tim Hukum Ganjar-Mahfud yang akan mengikuti sidang lanjutan tentang sengketa hasil Pilpres 2024. Tidak jauh berbeda dengan Tim Hukum Nasional AMIN yang membawa 19 orang yang terdiri dari 12 saksi dan 7 ahli, pihak Ganjar-Mahfud menghadirkan 19 orang yang terdiri dari 10 saksi dan 9 ahli.

“19 saksi dan ahli. Ada 9 ahli dan 10 saksi fakta,” kata Ketua Tim Demokrasi dan Keadilan Ganjar-Mahfud, Todung Mulya Lubis di MKRI, Jakarta, Selasa (2/4/2024).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sengitnya suasana sidang di Mahkamah Konstitusi hari ini sudah terasa sejak awal persidangan. Berbagai ungkapan dari saksi serta ahli yang muncul pun ditangkal oleh Yusril Ihza mahendra sebagai Ketua Tim Pembela Prabowo-Gibran.

Situasi semakin memanas saat Magnis Suseno atau Romo Magnis yang hadir sebagai salah satu ahli dari Ganjar-Mahfud memberikan pernyataan keras tentang pembagian bansos yang tidak dilakukan oleh Menteri terkait. Menurutnya, praktik itu disebut sebagai tindakan untuk memenangkan pasangan capres-cawapres dalam Pemilu 2024. Oleh Romo Magnis, hal ini ia ibaratkan sebagai sebagai pegawai yang mencuri uang di toko.

“Pembagian bantuan sosial. Bansos bukan milik Presiden melainkan milik bangsa Indonesia yang pembagiannya menjadi tanggung jawab Kementerian yang bersangkutan dan ada aturan pembagiannya,” kata Romo Magnis, melansir detikNews Selasa (2/4).

“Kalau presiden berdasarkan kekuasaannya begitu saja mengambil bansos untuk dibagi-bagi dalam rangka kampanye paslon yang mau dimenangkannya, maka itu mirip dengan seorang karyawan yang diam-diam mengambil uang tunai dari kas toko. Jadi itu pencurian ya pelanggaran etika,” lanjut Romo Magnis.

Olehnya, tindakan Kepala Negara itu disebut sebagai salah satu bentuk keberpihakan serta bukti bahwa Presiden telah kehilangan wawasan serta etika dasar sebagai Presiden. Ia juga mengeaskan bahwa seharusnya Presiden tidak menggunakan kekuasaannya untuk mengarahkan aparat negara untuk mendukung salah satu pasangan calon peserta Pilpres 2024.

Hotman Paris sebagai salah satu Tim Pembela pun menanggapi pernyataan Romo Magnis. Menurut Hotman, tindakan Presiden hanyalah bentuk simbolis, kemudian proses selanjutnya dilakukan oleh kementerian terkait. Hotman juga menegaskan bahwa pembagian diberikan kepada masyarakat yang berhak sesuai dengan data yang dimiliki.

“Presiden hanya simbolik di awal membagikan bansos sesuai data yang udah ada di kementerian masing-masing, selanjutnya dilanjutkan oleh kementeriannya. Jadi presiden tidak pernah membagikan bansos di luar data yang udah ada sesuai data kementerian. Dari mana Pak Romo tahu kalau presiden itu seolah mencuri uang bansos untuk dibagikan, padahal pak romo tidak tahu praktek pembagian itu udah ada data lengkapnya yaitu KPM, Keluarga Penerima Manfaat,” kata Hotman.

Franz Magnis Suseno, budayawan sekaligus Profesor Filsafat STF Driyakara itu mengatakan bahwa pendapatnya ini tidak terpatok dengan praktik yang terjadi di Indonesia. ia menekankan bahwa dirinya bukan ahli bansos yang dapat memaparkan bahyak hal terkait hal tersebut.

“Apakah itu terjadi di Indonesia? Bukan urusan saya, saya bukan ahli mengenai hal-hal itu, saya hanya melihat kasus secara teoritis. Tetapi, misalnya kalau dibagikan untuk para fakir miskin yaitu saja sudah susah,” kata Magnis.

Sebelumnya dalam sidang lanjutan yang dilaksanakan pada Senin (1/4) lalu, muncul
tudingan bahwa dukungan Presiden kepada Prabowo-Gibran menggerus nilai jujur dan adil dalam proses pemilu. Hal ini sesuai dengan pernyataan Tim Kuasa Hukum Ganjar Pranowo-Mahfud, Ronny Talapessy kepada wartawan.

“Menurut saya begini, kalau presiden mendukung paslon 02 itu menjadikan pilpres tidak lagi jujur dan adil. Apalagi pada paslon 02 cawapresnya adalah anak Jokowi, maka tidak mungkin prinsip pemilu jujur dan adil itu bisa diterapkan,” kata Ronny dikutip dari detikNews, Senin(1/4/2024).

Terkait dengan dugaan ini, dalam sidang, Yusril pun sempat bertanya ke ahli yang dihadirkan Tim Hukum AMIN. Dalam kesempatan itu, dirinya mempertanyakan hubungan dukungan Jokowi dengan kenaikan suara Prabowo. Sebab, menurutnya, pasangan calon lain juga didukung oleh tokoh-tokoh lain yang berpengaruh.

“Bahwa petahana, atau calon yang didukung oleh petahana akan mendapatkan suara lebih dibanding calon lain? Bagaimana ahli dapat menerangkan kekalahan Megawati dengan SBY, dan pilpres 2024?” tanya Yusril.

Apakah kesaksian belasan ahli serta saksi dari kubu 01 dan 03 mampu menggoyang hasil keputusan KPU tentang pemenang Pilpres 2024? Sampai di mana proses ini akan berjalan? Ikuti ulasannya dalam sajian khas Editorial Review di detik Sore.

Bersama detikBali, detik Sore kali ini akan mengulas kegelisahan para pelancong di Pulau Dewata menyusul adanya kasus pemerasan pengguna jasa taksi di sana. Sesering apa hal ini terjadi? Apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah setempat? Ikuti ulasannya dalam Indonesia Detik Ini.

Sunsetalk edisi ini akan menghadirkan Redaktur Pelaksana detikHealth. Ikuti bahasannya dalam mempersiapkan segala hal sebelum mudik.

Jangan lewatkan ulasan mendalam berita-berita hangat detikcom dalam sehari yang disiarkan secara langsung langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 15.30-18.00 WIB, di 20.detik.com dan TikTok detikcom. Jangan ketinggalan untuk mengikuti analisis pergerakan pasar saham jelang penutupan IHSG di awal acara. Sampaikan komentar Anda melalui kolom live chat yang tersedia.

(vys/vys)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *