Jakarta

Hari Peduli Autisme Sedunia atau World Autism Awareness Day diperingati setiap tahun pada tanggal 2 April. Peringatan global ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian terhadap penyandang autisme di seluruh dunia.

Lantas, bagaimana sejarah peringatan 2 April tersebut? Apa tema Hari Peduli Autisme Sedunia 2024? Berikut ulasannya.

Dikutip dari situs National Today, Autism Spectrum Disorder adalah gangguan perkembangan yang ditandai dengan perilaku dan komunikasi yang berdampak pada kemampuan seseorang untuk menavigasi interaksi sosial dan juga menyebabkan perilaku berulang dan terbatas. Kata “Autisme” pertama kali digunakan oleh psikiater Eugen Bleuler pada tahun 1911 untuk menggambarkan sekelompok gejala tertentu yang dianggap sebagai gejala skizofrenia.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada tahun 1943, psikiater anak Dr. Leo Kanner dalam artikelnya “Gangguan Autistik Kontak Afektif”, mencirikan autisme sebagai gangguan sosial dan emosional dalam artikelnya “Gangguan Autistik Kontak Afektif”. Kemudian, pada tahun 1944, Hans Asperger menerbitkan “Artikel Psikopatologi Autisme” di mana dia menjelaskan autisme sebagai gangguan kecerdasan normal anak yang mengalami kesulitan dengan kemampuan sosial dan komunikasi.

Hari Peduli Autisme Sedunia ditetapkan pada tanggal 2 April setiap tahun oleh “Majelis Umum PBB” melalui “Resolusi 62/139” dan diadopsi pada 18 Desember 2007. Tujuan Hari Peduli Autisme Sedunia untuk mendorong negara-negara anggota PBB mengambil tindakan dalam meningkatkan kesadaran tentang orang dengan gangguan spektrum autisme dan mendukung penelitian menemukan cara baru untuk meningkatkan kesehatan mereka.

Menurut situs resmi PBB, tema Hari Peduli Autisme Sedunia 2024 adalah “Moving from Surviving to Thriving: Autistic individuals share regional perspectives”. Peringatan tahun ini untuk pertama kalinya berupaya memberikan gambaran global tentang keadaan autisme dari sudut pandang orang autis itu sendiri.

Hari Peduli Autisme Sedunia adalah momen untuk mengakui dan merayakan kontribusi penting penyandang autisme di setiap negara dan komunitas.

Namun terkadang, mereka terus menghadapi hambatan terhadap hak-hak dasar mereka atas pendidikan, pekerjaan dan inklusi sosial – sebagaimana diserukan oleh Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas dan Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030.

Terkait dengan hak-hak dasar, pemerintah harus berinvestasi dalam sistem dukungan masyarakat yang lebih kuat, program pendidikan dan pelatihan yang inklusif, serta solusi yang mudah diakses dan berbasis teknologi untuk memungkinkan penyandang autisme menikmati hak yang sama seperti orang lain.

(kny/imk)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *